OBAT DIARE: TIDAK SEMUDAH PILIH LOPAMID & IMODIUM

APOTEK

Kalau kita googling obat diare, kemudian artikel yang kita baca itu menyarankan obat bebas seperti Entrostop atau Diapet, biasanya kita mengabaikan rekomendasi ini. 

Sebab kita tentu akan berpikir, buat apa googling kalau jawabannya adalah obat yang sudah kita ketahui dan mudah didapat di Indomaret. Kecenderungan inilah yang membuat kita lebih senang mendapat rekomendasi obat keras yang hanya dijual di apotek.

Dengan aneka variasi kata kunci obat OBAT DIARE, kita hampir pasti akan menemukan rekomendasi obat keras bernama loperamid. Contoh merek dagangnya Imodium, Lopamid, Lodia. Bahkan di Google Images pun gambar loperamid ada di urutan atas hasil pencarian.

Loperamid sebetulnya adalah jalan pintas menghentikan diare. Kita tahu, jalan pintas sering melanggar pedoman yang baik. Begitu pula loperamid.

Obat ini bekerja dengan cara menghentikan usus besar yang sedang memompa keluar isi perut. Diare memang berhenti. Tapi berhentinya diare ini bisa saja malah berbahaya. Kok bisa? Sebab kita tidak tahu penyebab diare itu.

 Kalau penyebabnya adalah infeksi kuman, maka kuman justru akan tertahan dan berkembang biak di dalam perut. Makin berbahaya. Begitu pula kalau penyebabnya racun dari makanan. Kalau tidak dipompa keluar, racun ini justru akan tertahan di dalam perut dan akan diserap ke dalam peredaran darah.

Gerakan usus memompa keluar sisa makanan itu sebetulnya bertujuan membuang benda asing yang dianggap berbahaya. Kalau gerakan pompa ini dihentikan, bisa jadi malah berbahaya.

Kalau begitu, apa obat diare yang tidak berbahaya? Untuk sebagian besar kasus diare, sebetulnya obat bebas seperti Diapet dan Neo Entrostop sudah cukup ampuh asal penggunaannya tepat. Tidak perlu obat keras semacam loperamid atau antibiotik.

Untuk bisa mengobati diare, pertama-tama kita perlu tahu penyebabnya. 

  1. Iritasi karena makanan

Kalau penyebabnya makanan yang mengiritasi, misalnya cabe, obatnya cukup Neo Entrostop atau Diapet. Untuk dewasa, sekali minum dua biji langsung. 

Entrostop mengandung attapulgit dan pektin. Sementara Diapet mengandung bahan herbal ekstrak daun jambu biji. Dua obat bebas ini bekerja dengan cara melapisi usus, menyerap racun, dan memadatkan tinja.

Tidak perlu minum loperamid. Kalau kita minum loperamid, zat pedas cabe justru akan tertahan makin lama di perut. Usus akan mengalami iritasi lebih lama. 

  • Racun

Kalau penyebabnya racun, misalnya dari makanan yang tercemar atau kedaluwarsa, obatnya adalah Norit. Diminum sekaligus dalam jumlah banyak, misalnya satu botol langsung habis. 

Tidak berbahaya walaupun satu botol karena isinya hanya arang penyerap racun. Obat ini tidak diserap usus. Aman untuk semua orang, mulai dari anak, ibu hamil, ibu menyusui, sampai lansia.

Tidak perlu minum loperamid karena malah akan menyebabkan racun tertahan di dalam perut. Yang penting jangan sampai kurang cairan. Minum oralit atau teh hangat yang diberi gula dan sedikit garam.

  • Makanan basi

Kalau penyebabnya makanan basi, biasanya diare terjadi karena makanan itu mengandung kuman. Walaupun penyebabnya bakteri, tidak lantas kita pasti butuh antibiotik. Kita bisa mencoba dulu Diapet NR. 

Obat ini berisi arang dan attapulgit yang menyerap racun dan kuman. Juga mengandung bahan herbal ekstrak daun jambu biji yang punya khasiat antibakteri. Sekali minum langsung dua kapsul. Kalau diare masih belum mampet, kita bisa minum dua kapsul lagi. 

Kalau mau membuat obat sendiri, kita bisa merebus pucuk jambu biji. Enam lembar daun muda diremas-remas, direbus dengan air segelas lalu air rebusannya diminum. 

Apakah tidak perlu antibiotik? Biasanya tidak perlu. Jangan membeli sendiri Super Tetra atau amoxicilin. Ekstrak daun jambu biji saja sudah cukup. Karena daun jambu bisa membunuh kuman sekaligus menghentikan diare. 

Kalau ekstrak daun jambu biji tidak mempan, kita perlu ke dokter. Sebab antibiotik sudah wilayah dokter. Kita tidak tahu kuman penyebab diarenya. Sebab kuman itu macam-macam. Ada bakteri, jamur, amuba, protozoa. Bakteri pun jenisnya macam-macam. Serahkan urusannya ke dokter. 

  • Makanan yang sulit dicerna

Kalau penyebabnya makanan yang sulit dicerna, biasanya diare diawali dengan perut kembung. Biasanya disertai suara gelembung di dalam cairan perut. Makanan yang sulit dicerna itu macam-macam. Mungkin daging yang kurang matang, makan terlalu banyak, makanan yang baru pertama kali dicoba, buah pare, kubis, sayur nangka, ubi jalar, dll. 

Obat diare jenis ini adalah enzim cerna. Contoh merek yang terkenal: New Enzyplex. Tak perlu minum loperamid. Biarkan diare berlanjut. 

Lho gimana sih, sakit kok dibiarkan berlanjut? Sebab sisa makanan penyebab kembung itu memang harus dikeluarkan. Nanti kalau makanan busuk ini sudah keluar, diare akan berhenti dengan sendirinya. Yang penting jangan sampai kurang cairan. Minum teh hangat yang diberi gula dan sedikit garam.

  • Penyebab gabungan

Kuman, toksin, dan zat pengiritasi bisa saja bergabung jadi satu. Misalnya kita makan pecel yang sudah tengik dan jamuran, atau makan asinan yang tidak higienis. Obatnya perlu kombinasi karbon (Norit), attapulgit (Entrstop/Diatab), dan daun jambu biji (Diapet). 

Apakah tidak berbahaya minum 3 macam obat sekaligus? Tidak. Cukup dikurangi saja dosisnya, misalnya 10 tablet Norit, 1 tablet Entrostop, 2 kapsul Diapet. 

  • Obat-obatan

Obat tertentu bisa saja menyebabkan diare, misalnya antibiotik, Dulcolax (obat sembelit yang berisi bisakodil), obat darah tinggi, obat rematik, obat diabetes, atau lainnya. Ini sulit dicari tahu oleh orang awam. Konsultasikan ke dokter dan apoteker. 

  • Penyakit lain

Mungkin penyebabnya adalah penyakit, misalnya sakit mag, gangguan usus besar, stres parah. Penyakit-penyakit ini bisa menyebabkan diare. Obatnya tentu sesuai dengan penyebabnya. Kalau penyebabnya asam lambung, obatnya adalah obat mag.

  • Susu

Susu bisa menyebabkan diare lewat tiga cara berbeda. Pertama, kandungan gula susunya (laktosa). Sebagian kecil anak tidak bisa mencerna gula susu sehingga tiap kali minum susu dia mengalami diare. Cara mengatasinya adalah mengganti susu dengan susu rendah laktosa (low lactose milk) atau susu kedelai.

Kedua, kandungan proteinnya (bukan gula susunya). Pada sebagian kecil anak, protein susu bisa menyebabkan alergi. Ia mungkin bisa mencerna gula susu tapi dia bisa saja mengalami diare jika alergi terhadap protein susu. Untuk kasus begini, susu si kecil harus diganti dengan susu yang proteinnya sudah diurai. Untuk urusan ini, konsultasikan ke dokter anak.

Ketiga, susu fermentasi seperti yoghurt atau Yakult. Ini kasusnya beda lagi. Bukan karena gula susu atau alergi protein tetapi karena bakteri di dalam susu fermentasi menyebabkan ketidakseimbangan mikroba usus. Solusinya cukup dihentikan saja minum susu fermentasi. Intinya, penyebab diare harus dihentikan dulu baru kita menghentikan diarenya. 

  • Penyebab yang tidak diketahui

Jika penyebab diare tidak jelas, baru kita menggunakan loperamid. Contoh merek yang terkenal: Imodium. Ini sebetulnya bukan obat bebas. Tapi orang awam sudah telanjur mengetahuinya seperti Super Tetra atau amoxicilin. 

Sayangnya, pengetahuan ini tidak lengkap. Orang-orang hanya tahu obat ini bisa menghentikan diare tapi tidak tahu kapan loperamid tidak diperlukan.

Loperamid hanya menghentikan gerakan usus membuang tinja. Dia tidak bisa membunuh kuman, tidak bisa menyerap racun, tidak bisa melapisi permukaan usus. Jadi, loperamid justru berbahaya kalau diarenya disebabkan oleh kuman atau racun. 

Apa Pun Penyebab Diare, Minumnya Oralit

Oralit sebetulnya obat diare paling penting tapi sering dilupakan. Walaupun kelihatan sepele, diare bisa sangat berbahaya. Bisa sampai mematikan. Yang bahaya bukan keluarnya tinja melainkan keluarnya cairan. 

Agar tidak kekurangan cairan, selama diare kita perlu minum cairan oralit. Kalau oralit rasanya dianggap tidak enak, kita bisa minum teh hangat yang diberi gula dan sedikit garam. 

Silakan bagikan, klik ikon di bawah

Leave a Reply