Plot Twist

OPINI

Di komedi part 1, sepertinya ada yang tidak tahu siapa itu Dimas Seto dan Indraguna Sutowo. 

Masak stand up comedy harus dijelaskan? Tapi okelah, saya bantu: Dimas Seto adalah artis, suami dari artis Dini (Aminarti). Indraguna Sutowo adalah konglomerat, suami artis Dian (Sastro). Seandainya dulu saya tidak jadi wartawan, mungkin saya juga cuma tahu Dian Sastro.

Lanjut comedy part 2, sebagaimana yang saya janjikan. 

Urip sawang sinawang.

Beberapa bulan setelah bekerja di Jakarta, saya lihat Agus Setiyono sudah bisa membeli tape recorder Panasonic. Buat mendengarkan Air Supply. Sementara saya baru bisa membeli kaset Franky Sahilatua. Belum punya tip tapi sudah beli kaset. Gaji kami saat itu sama. Novell, Pharos, dan Soho gaji supervisor baru sejutaan lebih beberapa ratus. Untuk membeli radio tip saja, saya harus menabung selama satu tahun karena setiap bulan saya harus mengirimkan separuh gaji saya ke desa. 

Tapi baru saja saya bisa membeli tip, saya sudah keluar dari Novell dan jadi pengangguran. Padahal teman-teman saya baik-baik saja bekerja di industri. Agus, Ari, Joko, Wawan, Wahyudi, semua bisa bertahan di industri sampai bertahun-tahun. 

Waktu masuk Novell, saya memasang target jadi plant manager. Ternyata saya cuma sanggup bertahan 1 tahun. Bertahun-tahun kemudian ketika Wawan dan Joko jadi plant manager, saya ternyata akhirnya juga menjadi plant manager. Bedanya, mereka menjadi manajer pabrik (plant). Sementara saya jadi manajer tanaman (plant) alias tukang kebon. Kebon kates. Sebuah plot twist yang sama sekali tak terduga.

Waktu jadi wartawan, saya pernah liputan ke Semarang. Di sana saya menginap di rumah Joko Kawiyanto. Joko hidupnya sudah lengkap. Sudah punya rumah, anak, istri. Istrinya mirip Ratna. Sementara saya masih gelandangan yang merasa dirinya hebat. Sambil ditraktir makan di warung soto Semarang karena istrinya yang mirip Ratna itu sangat sibuk sehingga tidak sempat memasak, saya bolak-balik diskakmat oleh Joko, “Kowe kalah adoh karo Nasir! Nasir saiki dadi dosen. Bojone yo dosen, pegawe negri!” Kebetulan Nasir dan istrinya juga tinggal di Semarang.

Saya memang benar-benar tidak menyangka Nasir bisa menghadirkan plot twist seperti itu. Dulu waktu kuliah, dia sering ke kos-kosan saya. Minta les privat sebelum ujian karena dia sering sekali dapat D dan mengulang kuliah. Jalan hidup manusia memang sulit ditebak.

Nasir adalah tipe kawan yang menyenangkan. Lucu dan baik hati. Lucunya gawan bayi. Bahkan dia diam saja sudah lucu. Dia selalu hormat kepada saya. Bahkan ketika kami bertemu ketika ia sudah jadi pengajar, dia mengucapkan terima kasih karena saya dulu memberi contoh “carane ngulangi wong goblok koyok aku”.

Beberapa tahun setelah kami tidak bertemu, saya dapat kabar kesehatannya memburuk. Sebetulnya sejak masa kuliah pun saya sudah khawatir dengan kesehatan Nasir. Dia kalau ke kos-kosan saya, naik tangga saja ngos-ngosan sampai harus diam dulu di tangga. 

Lama kami tak bersua, ketika sedang di kebun, suatu hari saya tiba-tiba ditelepon Dogel (FF93) padahal kami sama-sama tidak saling menyimpan nomor telepon. Saya dan Dogel juga tidak pernah akrab di kampus, tapi tiba-tiba saja dia menelepon saya. Dia minta saya menelepon Nasir. Saya pun menelepon. Tapi ketika mendengar suaranya di telepon, saya mbrebes mili. Saya bahkan tidak sanggup mendengarkan suaranya. Saat itu dia sudah mengalami serangan stroke. Bicaranya tidak jelas. Saya tidak bisa melihat wajahnya karena hp saya Nokia jadul.

Beberapa bulan kemudian, saya mendengar kabar dia meninggal dunia.

Semoga Allah merahmatinya. 

Saya jadi teringat Dogel. Saya jadi berpikir, jangan-jangan yang mengaku sebagai Dogel itu fenomena spiritual yang mau memberi tahu saya tentang sisa waktu hidup Nasir.

Nasir orang baik. Dia senang bergurau dan gurauannya tidak aggressive humor. Setelah Nasir meninggal dunia, saya sering menjadikan dia sebagai pengingat untuk berhenti sambat. Kebetulan saya sering bertemu dengan Imam Ashari dan Guruh. Jika sedang mengobrol, kami sama-sama sering sambat masalah ekonomi. Alhamdulillah, tiap kali mengingat Nasir, kami berhenti sambat. Setidaknya kami masih diberi kesempatan hidup dan sehat. Dua anugerah itu saja sudah tak bisa ditimbang. Keterlaluan jika masih sambat.

Dulu saya dan Imam bisa menjadi saudara karena kami sering saling pinjam uang. Imam dulu sering bolos kuliah bukan karena urusan laporan praktikum tapi karena sering tidak punya uang buat ongkos lyn G. Saya agak mending karena saya, bersama Sri Suseno, mendapat beasiswa Sumitomo yang nilainya lumayan besar karena dalam dolar. 

Sekarang Imam sudah punya rumah, punya apotek walaupun kecil, punya keluarga lengkap, punya anak, punya istri Novia Kolopaking. Kalau kami mengeluh, kami saling mengingatkan dengan menyebut Yaumun Nasir. Cara ini selalu berhasil. Yaumun Nasir adalah obat kami melawan penyakit urip sawang sinawang.

Soal sawang sinawang ini saya dulu juga selalu merasa bahwa orang lain lebih beruntung. Waktu liputan ke ITB, saya sempat bertemu Rina Herowati. Dia sedang menempuh kuliah S3. Sementara saya mau jadi dosen saja gagal. Tapi plot hidup Rina tidak begitu twist karena memang sejak kuliah IPK-nya selalu bagus. Yang twist adalah hampir saja namanya bukan Rina Hero tapi Rina Heri.

Urusan kawin-mawin ini memang penuh plot twist.

Setelah diulti Joko di nikahannya Imam, saya berharap punya keluarga seperti Novia Kolopaking. Saya merasa diri saya seperti Emha Ainun Nadjib, sama-sama penulis. Tapi rupanya Tuhan mengabulkan doa saya dengan plot twist. Bukannya dapat istri Novia Kolopaking, ternyata makin tua tampang saya yang makin mirip Datuk Maringgih. Asem tenan.

Saya kira teman-teman pun banyak yang mengalami plot twist, hanya saja saya tidak tahu.

Yanuar Ahadi sepertinya juga mengalami plot twist begini. Saat ikut seminar di IAI Lamongan, saya satu kali bertemu Yanuar. Dia datang jauh-jauh dari Nganjuk karena ngejar target mengumpulkan SKP. Saya agak surprised melihat saudara saya ini jadi sangat religius. 

Saya dan Yanuar sejak zaman kuliah selalu bertolak belakang. Saya jelek, Yanuar ganteng. Saya anteng, Yanuar slengekan. IPK saya bagus, IPK Yanuar jelek. Tapi begitu lulus kuliah, Yanuar jadi pegawai negeri, saya malah gagal. Yanuar berubah jadi alim, saya malah berubah jadi Yanuar. Semua kebolak-balik. 

Bagi saya, plot twist yang sebenarnya bukan jadiannya Yanuar dan Ira. Itu biasa saja. Yang plot twist adalah ternyata Ira punya metode jitu meng-alim-kan Yanuar. Ira ternyata lebih akhwat daripada akhwat SKI.

Saya mengenal Yanuar sebagai pribadi yang baik hati, tertib, tapi agak peragu. Kalau diberi suatu kabar, respon pertama biasanya, “Iyo tah?” Seperti orang tidak percaya.

Mungkin saat menimbang-nimbang Ira, Yanuar juga ragu-ragu. Jika Ira bukan jodohnya, kenapa tanggal lahirnya sama? Tapi jika Ira jodohnya, Yanuar kelihatannya takut menghadapi gojlokan sadis Fauzi. Lalu ia berdoa minta petunjuk.

Tentu saja Tuhan tidak menurunkan jawaban. Aneh-aneh saja Yanuar ini. Jodoh kok berdasarkan tanggal lahir. Mau kawin kok takut digojlok. Maka Tuhan seketika memberi Yanuar hidayah (petunjuk). Langsung jadi alim.

Halo Yanuar. Halo Ira. Sungguh, saya berdoa semoga Allah merahmati sampeyan berdua.

Saya cuma bisa kirim doa. Buat teman-teman yang lain, saya juga berdoa: Semoga Allah merahmati kita semua. Makin tua usia, doa saya makin pendek. Cuma begini saja. Sebab makin tua, saya makin menyadari kita ini terlalu banyak keburukannya. Tapi seberapa pun buruknya kita, rahmat Tuhan melampaui semuanya. 

Silakan bagikan, klik ikon di bawah

One thought on “Plot Twist

Leave a Reply