Keseimbangan Hidup

OPINI

Saya barusan ulang tahun. Agak kaget juga ternyata dapuran saya sudah 47 tahun. Saya kira masih 30-an. Maklum, sejak terbiasa cukur gundul sewaktu keluar dari PT Novell, saya tidak pernah bersisir dan bercermin melihat wajah sendiri. 

Waktu reuni FFUA94 kemarin sebetulnya saya berencana datang dan mengisi stand up comedy. Tapi sayangnnya saya tidak bisa datang karena waktunya bersamaan dengan jadwal mengantar anak ke pondok. Padahal saya sudah menyiapkan materinya.

Saya latihan stand up comedy karena sedang berencana banting setir. Jadi apoteker sekarang makin berat. Di kampung saya, di dua desa yang bertetangga, Desa Blimbing dan Desa Brondong Lamongan, ada 7 apotek. Satu terpaksa gulung tikar. Apotek saya pun akhirnya terpaksa dijual karena BU. Apalagi sekarang di Universitas Muhammadiyah Lamongan bahkan ada jurusan farmasi. Sebentar lagi Lamongan akan banjir apoteker.

Selama 23 tahun jadi apoteker, nasib saya selalu kurang beruntung. Dulu selepas lulus, saya bekerja di PT Novell. Satu kloter ke Jakarta bersama Guruh dan Habib FF95 di Pharos, Agus Setiyono di Soho. Hari Sabtu Minggu kami biasanya saling berkunjung. Tapi saya cuma bertahan satu tahun karena kerja farmasi industri ternyata tidak cocok dengan gawan bayi saya yang suka mikir. Dulu saya tertarik ke farmasi industri cuma gara-gara kuliah tamu Pak Ahaditomo. Ternyata farmasi industri tidak seperti yang saya bayangkan.

Keluar dari Novell, saya balik lagi ke kos-kosan waktu kuliah di Karangmenjangan gang 4. Dekat kos-kosan Yanuar Ahadi. Mencoba jadi novelis. Selama 3 bulan penuh saya berdiam diri di kamar kos. Nulis, mandi, makan, tidur, nulis, begitu terus. Begitu naskah selesai, saya antarkan langsung ke penerbit di Jogja. Tapi naskah saya langsung dikembalikan. Pulang dari Jogja naik bis, rasanya lemas sekali. Suasananya seperti lagu Iwan Fals “Sarjana Muda”.

Saya kembali ke Surabaya, mencoba menjadi penulis koran. Saya menulis cukup banyak artikel lalu saya kirimkan ke Jawa Pos, Republika, Kompas. Alhamdulillah, berkat doa saya sendiri, tulisan kiriman saya ini semuanya langsung dimuat hari itu juga. Dimuat di tong sampah.

Gagal  jadi novelis dan kolumnis koran, saya pulang ke desa, ngurusi apotek kakak saya yang dirintis oleh Imam Ashari. Imam pindah ke apotek di Banyumas, diajak Jokoka. Tapi di apotek pun saya juga bosan karena tidak sesuai dengan gawan bayi saya yang suka mikir.

Dalam keadaan bimbang dengan profesi apoteker yang tidak sesuai ekspektasi, saya ikut seleksi dosen farmasi di Unej. Di Jember saya mampir ke mes Kimia Farma yang ditempati Fauzi. Saya masih ingat betul, ketika saya numpang ke kamar mandi, Fauzi berpesan kepada saya, “Nik nguyoh ojo ditatapno tembok, mundak ora ketrimo”.

Kurang ajar. Ini penghinaan. Fauzi ini memang kurang ajar sejak zaman kuliah. Dia selalu menghina saya padahal dalam hal apa pun dia levelnya berada di bawah saya. Soal tampang memang sama-sama jelek tapi saya masih mending karena masih punya tampang bijaksana. Apalagi soal kecerdasan. Jauh. IPK saya 3,3. Fauzi cuma dua koma. Tapi dalam hati, saya mengakui, orang desa memang kalau pipis di kamar mandi biasanya memang ditatapno tembok supaya tidak nyiprat sebab orang desa memang tidak punya WC siram.

Sambil mikir soal pipis ditatapno tembok ini, saya mengikuti tes dosen. Ada sekian belas peserta, saya lolos seleksi tahap satu, tahap dua, tahap tiga. Wajar karena memang saya pinter. Di tahap akhir wawancara, tinggal tiga orang. Saya, satu cewek dari UGM, satu cewek dari ITB. Tapi begitu waktu pengumuman tiba, saya mlongo. Benar-benar mlongo. Karena yang diterima adalah peserta cewek yang hanya ikut tes tahap 1. Lebih mlongo lagi, karena saya kenal dengan dia sebab dia adik kelas di FFUA.

Yang tahu urusan ini adalah Yudi Wicaksono FF95, Fauzi, dan Hari Basuki.

Saya jadi mikir, apakah ini ada hubungannya dengan kebiasaan nguyoh ditatapno tembok?

Gagal jadi dosen, saya nekat nglamar jadi wartawan. Ini benar-benar bonek. Yang saya lamar ini wartawan grup Kompas. Pemiliknya orang Katolik Jogja dan Tionghoa. Padahal pengalaman saya cuma nulis di buletin SKI Asy-syifa. Tapi ndilalah saya justru diterima. Dan ternyata asyik sekali jadi wartawan. Jauh lebih asyik daripada jadi apoteker. Cocok dengan gawan bayi saya yang suka mikir. Saking asyiknya jadi wartawan delapan tahun, saya sampai gak kawin-kawin.

Saya kawin telat. Waktu datang di kawinan Imam Ashari, saya diancam Jokokawi dan Yaumun Nasir. “Awas kowe nik bojomu kalah ayu karo bojone Imam!”

Saya terus-terang agak ciut nyali karena istrinya Imam memang seperti Novia Kolopaking. Jokoka waktu itu menelepon Dian Pratiwi. Saya diminta ngomong. Dian bertanya ke saya, kapan kawin. Saya makin ciut karena dulu saya diam-diam pernah senang sama Dian.

(Nah… ini sudah masuk bagian inti stand up comedy)

Ini pengakuan saya setelah saya pendam selama 23 tahun. Halo Dian. Dian pasti juga deg-degan ini karena dia mungkin tidak pernah menyangka saya diam-diam suka kepadanya.

Saya masih ingat betul, waktu itu Dian setelah lulus kuliah bekerja di klinik Muhammadiyah Babat. Sekarang klinik itu sudah jadi rumah sakit. Kebetulan dulu saya mondok di pesantren dekat klinik Muhammadiyah ini. Saya datang ke klinik. Tapi kebetulan Dian sedang tidak ada. Saya bertemu dengan kakak kelas saya yang sudah jadi dokter di sini. Namanya Sriyono. Sriyono ini teman seangkatan Mas Dokter Abdur Rahman, suami Huda Nurmayanti.

Lewat obrolan singkat, Sriyono bisa membaca gelagat saya. Tapi dia memberi tahu saya sebuah rahasia. “Lebih baik kamu mundur saja. Dian sudah punya calon. Anaknya orang kaya. Punya SPBU Pertamina.”

Wah, baru tahu saya. Mendengar rahasia ini, dengkul saya rasanya lemes sekali. Patah hati. Suasananya seperti lagu Oma Irama yang judulnya Kehilangan.

Gagal dapat Dian, saya mikir lagi. Maklum, gawan bayi saya memang suka mikir.

Ndilalah, dalam keadaan patah hati itu, saya dapat kabar Dini Puspitasari juga bekerja di RSI NU Lamongan. Kebetulan saya diam-diam juga senang sama Dini. Kebetulan kami satu dosen wali, Pak IGN Astika.

Beberapa minggu kemudian, saya pun berangkat ke sana. Lagi-lagi apes, Dini juga sedang tidak di tempat. Waktu itu memang saya belum punya hape. Di rumah sakit, saya ketemu dengan dokter temannya Sriyono kakak kelas saya. Saya lupa namanya. Dokter ini juga memberi tahu saya. “Sebaiknya sampeyan mundur saja, Mas. Dini sudah punya calon. Orangnya ganteng sekali. Kayak artis.”

Mungkin inilah yang namanya jodoh di tangan Tuhan. Tuhan maha tinggi. Tak terjangkau.

Mendengar ini, badan saya langsung meriang. Dengkul saya lemes sekali. Patah hati berat tak tertahankan. Suasananya seperti lagu Franky Sahilatua yang judulnya Purnama Jangan Berkeping.

Gagal maning, gagal maning. Saya jadi mikir, apakah ini masih ada kaitannya dengan kebiasaan nguyoh ditatapno tembok?

Bertahun-tahun setelah jadi wartawan, saya akhirnya tahu suami Dian yang punya Pertamina dan suami Dini yang ternyata memang ganteng kayak artis itu. Nama suami Dian: Indraguna Sutowo. Nama suami Dini: Dimas Seto.

@2pac.thadon

Crying Boy Then Laughing Rare Uncut Behind The Scenes!

♬ original sound – 2Pac Shakur

Hidup saya itu benar-benar seimbang. Gagal dalam kehidupan pribadi. Gagal juga dalam urusan kerja.

Sebagian besar orang yang IPK-nya cuma dua koma pasti akan berpikir, yang disebut keseimbangan hidup itu sukses di dunia kerja,  juga sukses di kehidupan pribadi. Ini pandangan yang cuma benar separuh. Yang disebut timbangan seimbang itu kiri dan kanan sama bobotnya. Sama-sama gagal itu juga seimbang. Saya bisa mengetahui rahasia makrifat ilmu kebijaksanaan seperti ini karena saya suka mikir dan IPK saya 3,3.

Itu sebabnya setelah delapan tahun sukses jadi wartawan di Jakarta, saya pulang kampung lagi ke Lamongan. Tujuannya agar saya gagal dalam urusan kerja. Di desa, saya mencoba aneka jenis pekerjaan. Semuanya gagal. Saya pernah jadi petani, menanam pepaya california. Guruh pernah berkunjung ke kebun saya. Saya pernah juga jualan buah, jual pulsa, buka toko, angon kambing. Semuanya gagal. Tapi saya menikmati kegagalan-kegagalan ini sebab ini semua membuat hidup saya seimbang. Kalau saya sukses di urusan kerja, tentu hidup saya tidak seimbang lagi.

Karena itu buat teman-teman yang masih berusaha mati-matian menyeimbangkan hidup, ikuti trik saya saja. Ini lebih gampang. Sayang sekali kalau usia sudah setengah abad tapi masih belum tahu life hack paling dasar ini.

Silakan bagikan, klik ikon di bawah

3 comments

Leave a Reply