resep soto ayam lamongan

Sejarah dan Resep Soto Ayam Lamongan (Bagian 2)

KULINER, SEJARAH

Tulisan ini adalah bagian dari serial SEJARAH SOTO AYAM LAMONGAN.

Baca juga Sejarah dan Resep Soto Ayam Lamongan (Bagian 1)

Dari sekian banyak makanan khas daerah di Indonesia, soto ayam Lamongan adalah salah satu makanan yang paling digemari. Penjualnya ada di mana-mana. Rasa lezatnya disukai oleh siapa saja, mulai dari anak-anak sampai lansia. Harganya pun bersahabat buat rakyat jelata. 

Di kalangan perantau asal Kabupaten Lamongan, berjualan soto adalah salah satu profesi favorit. Banyak desa di Lamongan yang perantaunya sebagian besar berjualan soto ayam. 

Lamongan sebetulnya punya banyak makanan khas. Ada pecel lele, tahu campur, tahu tek, wingko, jumbrek. Akan tetapi tidak ada satu pun yang popularitasnya bisa mengalahkan soto ayam Lamongan. Bahkan, di antara semua jenis varian soto Nusantara, soto ayam Lamongan bisa disebut sebagai yang paling paling digemari di Indonesia. Tidak berlebihan jika soto ayam Lamongan disebut sebagai makanan khas Indonesia. 

Asal-usul Soto Ayam Adalah Sup Jeroan Babi

Di balik popularitasnya sebagai makanan rakyat, soto ayam Lamongan punya sejarah panjang sejak zaman Belanda. Soto adalah masakan yang memadukan aneka budaya dapur, mulai dari Tionghoa, Belanda, India, Jawa, hingga Lamongan sendiri. 

Akar sejarah masakan soto diperkirakan muncul di dapur peranakan Cina. Menurut sejarawan Denys Lombard, dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya, kata soto berasal dari bahasa Cina Caudo (Jao To) yang arti harfiahnya adalah sup jeroan. 

Pada mulanya soto dibuat oleh kaum peranakan Cina untuk memanfaatkan jeroan hewan berkaki empat seperti babi atau sapi. Makan jeroan adalah budaya kuliner Cina. Orang Belanda menganggap budaya ini menjijikkan karena menganggap jeroan adalah bagian hewan yang kotor, tidak layak dimakan. Babi sendiri bagi orang Islam di Jawa adalah makanan haram. Di tangan orang Cina, bagian hewan yang dibuang ini masih bisa dimanfaatkan untuk dimakan. 

Soto ala jeroan ini kemudian berevolusi di banyak daerah menyesuaikan kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat setempat. Maka muncullah soto daging sapi, soto babat, soto daging kerbau, hingga soto daging ayam. Aneka jenis soto ini populer di daerah pesisir utara Jawa yang banyak dihuni oleh peranakan Cina seperti Surabaya, Semarang, Kudus, Pekalongan. 

Menurut Denys Lombard, soto ala peranakan Cina mulai populer di abad ke-19. Yang menarik, buku-buku resep yang terbit di zaman Hindia Belanda tidak mencantumkan resep soto. Sebut saja buku resep yang terkenal seperti Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek. Di sini tidak ada resep soto padahal buku ini memuat seribuan resep masakan Hindia Belanda.

resep soto ayam lamongan

Padahal di koleksi foto-foto zaman Hindia Belanda yang kini tersimpan di Universitas Leiden, ada cukup banyak arsip foto penjual soto di Jawa. Artinya, memang soto sengaja tidak dimasukkan ke dalam buku resep Hindia Belanda. Sejarawan Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, menduga ini disebabkan karena saat itu soto masih identik dengan jeroan sehingga tidak dianggap sebagai makanan yang tidak layak dikonsumsi. Dengan kata lain, jaoto ala peranakan Cina belum berevolusi menjadi soto ala Nusantara.

Di masa Presiden Sukarno, soto sudah menjadi masakan resmi Istana. Bung Karno sering menghidangkannya kepada tamu negara. Ini terdokumentasi dalam buku resep Mustika Rasa. Artinya pada saat itu soto sudah menjadi makanan khas Indonesia, tidak lagi masakan khas peranakan Cina yang identik dengan jeroan. 

Gelombang Penjual Soto Ayam Lamongan

Soto ayam sebetulnya ada di mana-mana. Tidak khas Lamongan. Soto ini menjadi maskot kuliner Lamongan karena kebetulan banyak orang Lamongan merantau dan berjualan soto ayam. Mereka inilah para “Duta Soto”.

Orang Lamongan mulai berjualan soto ayam sebetulnya sudah cukup lama. Menurut penelusuran Kompas, warung soto Lamongan sudah ada di Jakarta era tahun 1950 sampai 1960. Saat itu soto ayam belum berpasangan dengan pecel lele. Pecel lele diperkirakan baru muncul pada akhir tahun 1970-an.

Walaupun soto ayam Lamongan sudah lama ada di Ibukota, gelombang besar penjualnya baru terjadi pada era tahun 1980-1990-an. Cerita sukses penjual soto ayam biasanya tutur-tinular pada saat hari raya Idul Fitri. Para penjual soto yang berhasil itu bisa membangun rumah atau membeli sepeda motor. Saat kembali ke Jakarta, mereka biasanya mengajak kawan atau kerabat mereka untuk berjualan soto di kawasan lain di Jakarta. Sedikit demi sedikit, akhirnya semua kawasan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya dirambah oleh soto ayam Lamongan.

Di Lamongan sendiri, soto ayam adalah hidangan resmi saat acara resepsi pernikahan, khitanan, naik haji, atau selamatan. Soto lebih disukai karena daging ayam lebih murah daripada daging sapi untuk membuat rawon. 

Di Jakarta, para penjual soto ayam ini tentu memasak dengan cara Lamongan. Tidak menggunakan santan. Minyaknya berasal dari kaldu ayam dan minyak goreng untuk menumis bumbu. Ciri khas soto Lamongan adalah adanya tambahan bubuk koya yang dibuat dari kerupuk udang.

Soto ayam memang tidak bisa dibilang asli Lamongan. Akan tetapi soto ayam Lamongan yang kita kenal sekarang adalah memang soto khas Lamongan. Soto ini dijual oleh orang-orang Lamongan, dengan cara masak ala Lamongan, sebagaimana yang mereka lakukan saat ada acara resepsi pernikahan atau selamatan. 

Ini seperti sambal atau tempe. Sambal adalah makanan khas Indonesia walaupun cabai bukanlah tanaman asli Indonesia. Tempe adalah makanan khas Indonesia walaupun kedelainya diimpor dari Amerika.

lamonganpos
Author: lamonganpos

Redaksi LamonganPos

Silakan bagikan, klik ikon di bawah

4 comments

Leave a Reply