koya soto ayamlamongan

Sejarah dan Resep Koya Soto Ayam Lamongan

KULINER, SEJARAH

Kami sudah pernah menulis tentang sejarah soto ayam Lamongan. Selengkapnya baca di sini. Soto ayam Lamongan identik dengan koya. Tapi sebetulnya koya kemungkinan besar bukan asli Lamongan. Jejak sejarahnya bisa kita runut dari kue koya, kue khas peranakan Tionghoa.

Dalam hal pengaruh kuliner peranakan Tionghoa, Lamongan sebetulnya “tidak begitu Cina”. Yang lebih Cina adalah Tuban. Buktinya banyak sekali. Yang paling kelihatan tentu saja adalah Kelenteng Kwan Sing Bio di alun-alun Tuban yang masih digunakan sembahyang hingga hari ini. 

Di Tuban, komunitas peranakan Cina masih cukup dominan dan menguasai aneka jenis usaha. Sementara di Lamongan, komunitas peranakan Cina yang paling besar hanya di Babat. Mereka tidak begitu dominan di Lamongan.

Perbedaan ini mudah dipahami karena Tuban kota lokasinya berada di pesisir dan pelabuhan zaman dulu. Para pelaut dari Cina, begitu mendarat di Tuban, akan bermukim di tempat yang tidak jauh dari pelabuhan. 

Baca juga Sejarah Orang Cina di Lamongan

Koya Soto dan Kue Koya

Apakah nama koya di dua jenis makanan ini kebetulan saja? Ataukah ada hubungannya?

Dilihat dari bentuknya, kita bisa menyimpulkan bahwa nama keduanya tidak sekadar kebetulan tapi memang berhubungan. Kue koya adalah kue khas peranakan Cina yang dalam bahasa Jawa kadang disebut kue satu, satru, atau kaoya.

Dalam bahasa Tionghoa, koya berarti kue tepung. Kue yang memang bentuknya masih berupa tepung. Biasanya terbuat dari tepung ketan, sagu, atau kacang hijau. Tepung ini dicetak begitu saja dalam keadaan masih berupa tepung, bukan adonan seperti kue pada umumnya.  

Adapun koya soto adalah komponen soto yang terbuat dari kerupuk udang dan bawang goreng. Bentuknya berupa bubuk (tepung) karena memang dibuat dari kerupuk udang matang yang dihaluskan. Jadi, koya soto dan kue koya punya persamaan dalam hal berbentuk tepung. 

Adanya komponen koya di dalam soto ayam pada mulanya kemungkinan besar adalah untuk memanfaatkan remah-remah kerupuk udang. Kerupuk udang zaman dulu pada umumnya berukuran besar-besar. Mudah patah dan menjadi remah-remah. Remah-remah inilah yang kemudian dihaluskan kemudian dicampur dengan soto yang ternyata membuat soto menjadi makin gurih.

Sekarang, di warung-warung soto ayam Lamongan, koya tentu saja tidak dibuat dari remah-remah kerupuk udang melainkan dari kerupuk udang bagus yang memang khusus untuk membuat koya. 

Sekarang kerupuk udang kebanyakan ukurannya kecil-kecil. Tapi kerupuk udang yang lebar-lebar sekarang masih bisa dijumpai di desa-desa. Ukurannya selebar piring. Kalau dihidangkan bersama soto atau rawon, kerupuk ini bisa menutupi piring. 

Kerupuk Udang dari Tuban

Kerupuk udang selama ini bukan produk khas Lamongan. Tuban lebih banyak memiliki aneka merek kerupuk udang yang terkenal. Bersama kecap dan terasi udang, kerupuk udang ini juga tampaknya adalah warisan kuliner peranakan Cina yang memang lebih kuat di Tuban daripada di Lamongan.

Di Tuban, sampai sekarang masih ada pabrik kecap besar yang sangat terkenal yaitu Kecap Cap Laron. Kita tahu, kecap juga merupakan tradisi kuliner Cina yang sangat banyak mempengaruhi tradisi kuliner Jawa dan Nusantara. Kecap Laron ini bukan produk khas Lamongan tapi bisa Anda jadikan oleh-oleh jika berkunjung ke Lamongan. Rasanya lebih enak daripada kecap-kecap buatan pabrik seperti kecap ABC atau Sedap. Kecap Laron ini bisa Anda beli di pasar-pasar tradisional di Lamongan, terutama Lamongan pesisir.
Selengkapnya baca Oleh-oleh Khas Lamongan. 

koya soto ayam lamongan

Kerupuk udang adalah produk khas Jawa Timur pesisir utara seperti Tuban dan Sidoarjo yang merupakan daerah tambak. Kerupuk  terbuat dari tepung kanji, daging udang, dan bumbu. Salah satu bumbunya adalah penyedap rasa, selain garam tentunya.  

Penghasil kerupuk udang biasanya juga penghasil terasi udang sebab terasi udang adalah hasil samping kerupuk udang. Bagian daging udang digunakan untuk kerupuk, sementara sisa cangkangnya diolah menjadi terasi. 

Resep Koya Soto Ayam Lamongan

Karena bahannya cuma kerupuk udang dan bawang goreng, maka kelezatan koya sangat ditentukan oleh kualitas kerupuk udangnya. Kalau kerupuk udangnya tidak begitu enak, tentu saja koya yang dihasilkan juga kurang enak. 

Ada juga resep koya yang ditambahi daun jeruk sehingga koyanya menjadi lebih harum. Koya biasanya juga ditambah penyedap rasa. Adanya penambahan micin ini membuat soto menjadi makin gurih sebab soto ayam ini praktis mendapat tambahan micin tiga kali. Di dalam kuah sotonya sendiri sudah ada micin. Di dalam kerupuk udang sudah ada micin. Pada saat kerupuk udang dibuat menjadi koya, juga ditambah micin. Tiga kali micin!

Padahal kaldu ayam, udang, dan bawang gorengnya saja sudah gurih. Maka wajar jika soto ayam Lamongan memang gurih sekali. 

Agar koya hasilnya bagus, kerupuk udang sebaiknya dijemur dulu sehingga pada saat digoreng bisa langsung mekar dan matang merata. Pada saat dihaluskan, hasilnya adalah koya yang kuning keemasan. Orang yang tidak paham koya mungkin akan menyangkanya sebagai garam. 

koya soto ayam lamongan
lamonganpos
Author: lamonganpos

Redaksi LamonganPos

Silakan bagikan, klik ikon di bawah

One thought on “Sejarah dan Resep Koya Soto Ayam Lamongan

Leave a Reply