Sejarah PKI, Masyumi, dan NU di Lamongan

FEATURED, OPINI, SEJARAH

Pada tahun 1950/60-an, Lamongan adalah medan pertarungan sengit Partai Islam dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Setidaknya ini bisa kita lihat dari hasil pemilu di Lamongan tahun 1955. Di pesta demokrasi yang diikuti oleh 48 partai politik ini, tiga besarnya adalah Masyumi, PKI, dan NU. 

Masyumi memperoleh 117 ribu suara, PKI 87 ribu, Partai NU 70 ribu. PNI yang menjual nama Bung Karno saja hanya mendapat 50 ribu suara. Bahkan di Pemilu Daerah tahun 1957, ketika suara Masyumi turun, suara PKI justru naik.

Dari semua partai itu, yang paling menonjol adalah PKI. Masyumi dan NU wajar mendapat banyak suara karena di Lamongan banyak kiai Muhammadiyah dan NU. PKI terhitung pendatang baru.

Koran PKI, Harian Rakjat, persis pada tanggal 30 September 1965 memuat berita “Delegasi 12 Ormas Wanita Lamongan Temui Pemerintah.”

Daerah Brondong pernah menjadi tujuan Turba para petinggi PKI pusat. Turba adalah program Turun ke Bawah, semacam riset untuk menyerap aspirasi masyarakat. Ini semua menunjukkan bahwa Lamongan adalah basis penting PKI.

Menurut laporan majalah Tempo edisi “Pengakuan Algojo 1965”, DN Aidit, ketua PKI yang terkenal itu, pernah berkampanye di alun-alun Lamongan. Aidit adalah seorang orator ulung. Kata-katanya memikat. Ketika berkampanye di Lamongan, ia berpidato menggunakan bahasa Jawa krama inggil. Padahal Aidit bukan orang asli Jawa melainkan Belitung. 

Ia menyampaikan rencana PKI untuk membagi tanah sama rata untuk semua orang sesuai agenda reforma agraria. Tentu saja janji manis ini membius orang-orang Lamongan. Maka warga pun berbondong-bondong masuk PKI. Daerah Sugio, Sambeng, dan Tikung saat itu adalah basis PKI.

Celakanya, agenda mentah reforma agraria ini justru menyebabkan kericuhan di kalangan bawah. Banyak orang PKI menyerobot begitu saja tanah milik orang lain. Tak jarang sampai menyebabkan saling bunuh. 

Provokasi orang PKI makin lengkap karena mereka juga mengejek orang-orang NU dan Muhammadiyah. Lekra mengadakan pertunjukan ludruk yang sengaja digelar di samping masjid dengan lakon “Gusti Allah Mantu”.

Salah satu bagian dialognya yang terkenal: “Wis rasah macak ayu ayu, ora ayu yo payu. Nek ra ayu, yo, raup diniati wudhu. Nek ora ana banyu yo nganggo uyuhku. Banyu uyuhku padha sucine karo banyu wudhu.”

Tentu saja ini memancing kemarahan luar biasa di kalangan santri.

Saat itu PKI berada di atas angin. Di dalam negeri, mereka partai besar. Di luar negeri, mereka mendapat dukungan dari Soviet dan Cina. Aidit adalah salah satu kandidat penerus Bung Karno. Apalagi Si Bung Besar juga merestui komunisme, sampai-sampai ia meracik jargon Nasakom. 

Mereka makin kuat setelah Masyumi dibubarkan oleh Bung Karno tahun 1960. Beberapa langkah lagi PKI akan berkuasa. Tapi semua kedigdayaan PKI itu seketika runtuh begitu terjadi Gestapu.

Ketika peristiwa Malam Jahanam itu terjadi, Lamongan masih tenang seperti hari biasa. Karena keterbatasan alat komunikasi saat itu, berita Gestapu baru menyebar di kalangan warga Lamongan tiga hari kemudian. Itu menjadi awal dari tragedi berdarah.

Kebencian orang NU dan Muhammadiyah kepada PKI yang sudah memuncak itu menemukan pelampiasannya. Dengan dukungan tentara, mereka membasmi orang-orang PKI. Banyak di antara tokoh PKI itu dibunuh oleh pendekar-pendekar NU dan Muhammadiyah. 

Di Desa Gempol Manis Sambeng, misalnya, penumpasan PKI dipimpin oleh tokoh NU, Kiai Ahmad dan pendekar Pemuda Ansor, Abdul Ubaid. Ketua PKI setempat ditangkap kemudian dibunuh. 

Di wilayah Pantura, penumpasan PKI dipimpin oleh Kiai Abdurrrahman Syamsuri, pendiri Pesantren (Muhammadiyah) Karangasem Paciran. Pendekar-pendekar Tapak Suci berjaga 24 jam di Pesantren Karangasem. Siap sedia menerima tugas. Mereka juga bahkan diperbantukan sampai wilayah Lamongan selatan.

Kiai Abdurrahman Syamsuri

Di Desa Balun, Turi, pembunuhan orang-orang PKI sampai menyebabkan desa itu tak punya pemerintahan. Waktu itu Balun adalah basis PKI. Lurah dan perangkat desa adalah anggota dan simpatisan PKI. Setelah Gestapu, mereka semua dibunuh. Situasi desa mencekam, sampai warga memanggil pulang putra Balun yang berdinas TNI di Papua untuk menjadi kepala desa. 

Di Karanggeneng, orang PKI yang paling banyak dibunuh adalah penduduk Desa Mertani, Jagran, dan Kawistolegi karena desa-desa itu merupakan basis PKI. Mayat mereka dibuang begitu saja di Bengawan Solo. Sebagian mayat lain dikubur massal di Rawa Sebanget, Desa Banjarmadu.

Tragedi ini menjadi ajang balas dendam yang mengerikan. Ada yang menunggangi kesempatan ini untuk balas dendam pribadi yang tak ada kaitannya dengan politik. Ada yang dendam karena rebutan perempuan atau warisan.

Benar-benar tragedi yang membuat kita hampir tak percaya bahwa kakek-kakek kita pernah melewati masa gelap seperti itu.

Sampai sekarang kita masih berdebat, apakah benar Gestapu itu kudeta gagal PKI ataukah itu skenario CIA Amerika.

Kita berdebat sengit sambil mengutip sarjana-sarjana Amerika sampai lupa esensinya. Membaca sejarah tidak sekadar agar mengetahui masa lampau melainkan agar bisa mengambil pelajaran. 

Entah Gestapu itu kudeta PKI atau skenario CIA, ada satu hal yang pasti, yaitu kekonyolan orang-orang komunis Indonesia. Resep kekerasan ala komunisme di Rusia dan Cina jelas tak bisa diterapkan begitu saja Indonesia. Di sini agama mayoritasnya punya doktrin jihad dan mati syahid.

Orang-orang PKI itu lupa bahwa inti dari komunisme adalah melawan ketidakadilan, bukan melawan agama. Memang agama bisa menjadi musuh komunisme jika digunakan sebagai alat untuk menindas sesama manusia. 

Tapi faktanya, agama di Indonesia justru adalah kekuatan jihad melawan kolonialisme. Bahkan cikal bakal organisasi PKI saja adalah sempalan Sarekat Islam. Itu sebabnya komunis tulen seperti Tan Malaka justru mengajak kaum komunis dunia bekerja sama dengan kaum muslimin melawan imperialisme. 

Tapi dari arsip-arsip sejarah kita bisa tahu, orang-orang PKI mengobarkan kebencian kepada agama, mengejek Tuhan, meneror pesantren, bahkan membunuh kiai. Ini bukan hanya konyol tapi juga bahlul murokkab

Orang-orang PKI di desa ini tidak sadar, mereka hanya dimanfaatkan oleh elite politik di atas. Mereka tak tahu-menahu soal kudeta tapi harus ikut menanggung akibatnya yang tak terperi. Mereka mungkin bersalah tapi bagaimanapun juga pembunuhan massal tetap tak bisa dibenarkan.

Kita sekarang mungkin melihat sejarah secara hitam putih. Padahal sejarah manusia tak pernah hitam putih. Selalu ada spektrum warna. PKI pun demikian. Reforma agraria, misalnya, adalah gagasan yang sebetulnya sesuai dengan prinsip keadilan sosial. Sayangnya, gagasan ini dimanipulasi sekadar untuk meraup suara pemilu. 

Karena dikampanyekan dengan kekerasan, gagasan ini mati di tengah jalan. Begitu Orde Baru berkuasa, tanah negara dibagi-bagi di kalangan pejabat dan konglomerat. Beberapa orang konglomerat bisa menguasai hutan Kalimantan seluas Kabupaten Lamongan. Sementara di sisi lain, ada ribuan petani yang bahkan untuk makan sehari-hari saja kesulitan.

Bung Hatta, kakek kita yang paling arif itu, meringkas tragedi Gestapu dengan kalimat wicaksana yang bisa membuat kita menangis, kenapa bukan orang seperti ini yang mengendalikan hidup kita:

Sekarang praktis tidak ada partai yang sungguh-sungguh memperjuangkan reforma agraria. Oleh partai politik zaman sekarang, reforma agraria sekadar dimaknai sebagai bagi-bagi sertifikat tanah! 

Lebih menyedihkan lagi, sampai sekarang politik Indonesia masih belum beranjak jauh dari politik era PKI. Masih politik kegaduhan. Kita lebih suka ributnya daripada fokus ke gagasannya. Makin ribut, makin bagus.

Sekarang, setelah setengah abad berlalu, rakyat jelata masih terus-menerus dieksploitasi para politisi dengan janji tebu. Nama partai dan politisi silih berganti. Tapi ada yang tak pernah berubah: mereka hanya menginginkan suara rakyat jelata di bilik pemilu. Tak lebih, tak kurang.

Demi itu semua, mereka tak peduli rakyat jelata baku hantam atau bahkan mati. 

———-

Tulisan pegon di pamflet PKI di gambar atas: “PKI memperjuangkan terlaksananya pemerintah demokrasi rakyat yang menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan. Untuk lebih lanjut tentang sikap PKI terhadap agama datanglah beramai-ramai ke rapat umum PKI hari Minggu tanggal 5 September 1954 jam 9 pagi. Dengarkanlah pidato Sekertaris Jendral Sentral Komite PKI Kawan DN Aidit.”

lamonganpos
Author: lamonganpos

Silakan bagikan, klik ikon di bawah

Bagikan pendapat Anda di sini