Mbah Guru, Batik Eksperimental dari Desa Jugo, Sekaran

ANEKA, ANEKA, DIREKTORI, WISATA

Batik Lamongan identik dengan batik Sendang. Maklum, karena memang batik Sendang-lah yang paling terkenal.

Tapi sebetulnya batik di Lamongan tak hanya ada di Sendang. Di Kecamatan Sekaran pun ada batik yang kualitasnya cukup bagus. Tepatnya di Desa Jugo, sebuah desa kecil yang jarang kita lewati karena posisinya tidak berada di jalan utama Pucuk-Laren.

Batik yang dinamai Batik Mbah Guru ini dirintis oleh kakak beradik Endang Dzunuraini dan Thoriq Bidar Dardiri tahun 2013. Memang belum begitu lama. Tapi jejak batik di Desa Jugo sebetulnya sudah cukup tua.

Batik masuk desa ini pertama kali diperkenalkan oleh eyang Endang sekitar seabad yang lalu. Mereka adalah guru sekaligus sesepuh yang merintis pendidikan formal di desa ini. Warga setempat memanggil mereka “Mbah Guru”. Dari sebutan inilah nama batik Jugo berasal.

Rumah produksi batik ini mereka namai Sanggar Batik dan Lukis Mbah Guru. Sesuai namanya, kekuatan batik ini terletak di seni lukisnya.

Kebetulan Endang dan Thoriq sama-sama punya bakat seni. Endang lulusan Sastra Unair Surabaya. Thoriq bahkan adalah pelukis sekaligus magister seni lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Juga dosen Desain Komunikasi Visual di STT Muhammadiyah AR Fachruddin Bojonegoro.

Latar belakang seni ini tampak jelas di corak batik abstrak, yang berbeda dari batik Lamongan pada umumnya. Ini juga merupakan kelebihan batik Mbah Guru. Pemesan bisa request corak batik yang limited edition.

Soal mutu, batik Jugo sudah diakui. Sayangnya, posisi Desa Jugo yang tidak strategis membuat Endang harus mengandalkan pemasaran batiknya secara online. Tidak seperti batik Sendang yang dekat dengan sentra wisata pesisir. Penjualan langsung hanya di sanggar, Lamongan Mart di Lamongan Kota, dan pameran-pameran UMKM.

Sisi baiknya, pasar online ini juga yang membuat pasar Batik Mbah Guru mendunia. Dengan modal jaringan Endang dan Thoriq yang luas, beberapa pemesan Batik Mbah Guru berasal dari luar negeri. Mereka umumnya lebih menyukai corak abstrak, yang untuk melukisnya butuh keterampilan seni khusus.

Pasar lokal pada umumnya adalah pesanan. Misalnya untuk suvenir acara resmi. “Batik custom” ini dibuat khusus sesuai pesanan. Dikemas satu-satu dalam wadah stoples plastik bening sehingga menciptakan kesan cenderamata tradisional yang khas dan berkelas.

Batik cenderamata ini berbahan kain katun selebar 2 meter persegi. Dijual mulai Rp 200 ribu per biji, tergantung kerumitan pembuatannya.

Selain melayani pemesanan batik, sanggar ini juga menerima kunjungan wisata edukasi. Di sini pengunjug, mulai dari siswa SD sampai emak-emak, bisa belajar melukis dan membatik.

Jika dianalogikan dunia seni, Batik Mbah Guru ini mungkin bisa disebut “batik eksperimental”. Produk utamanya memang batik lawasan tapi Mbah Guru tak berhenti coba-coba untuk menghasilkan sesuatu yang baru, termasuk batik abstrak dan penggunaan aneka tumbuhan untuk pewarna.

Salah satunya adalah pemanfaatan daun ketapang yang banyak tumbuh di wilayah Pucuk-Sekaran.

Lebih dari sekadar tren back to nature, pemanfaatan pewarna alami ini memang sesuai misi Sanggar Mbah Guru sebagai wirausaha sosial, bukan semata-mata bisnis. Mbah Guru tidak sekadar batik. Sanggar ini meneruskan spirit pendidikan yang dibawa Si Mbah Guru seabad yang lalu.

Endang sendiri adalah peraih beberapa penghargaan di bidang wirausaha sosial, salah satunya Makadaya Fellowship.

Demi meneruskan spirit Si Mbah, Endang membuka pintu sanggar buat siapa saja, khususnya anak-anak muda Lamongan, yang ingin belajar wirausaha sosial. Gratis tis buat cah Lamongan.

Wong Njugo memang jago.

Sanggar Batik & Lukis Mbah GuruDesa Jugo, Kecamatan Sekaran
WA081334197134
Instagram@sanggarmbahguru
FacebookSanggar Batik dan Lukis Lamongan
Emailbatiklukislamongan@gmail.com
lamonganpos
Author: lamonganpos

Redaksi LamonganPos

Silakan bagikan, klik ikon di bawah

Bagikan pendapat Anda di sini