Sejarah Perahu Baja di Bengawan Solo Karanggeneng

SEJARAH

Pada akhir musim kemarau tahun 2019 lalu warga Lamongan dihebohkan oleh penemuan tiga bangkai perahu baja di Bengawan Solo, di Desa Mertani, Kecamatan Karanggeneng. Hingga hari ini kita baru bisa menduga-duga sejarah perahu itu.

Kita memang punya masalah dalam dokumentasi sejarah. Namun, ada beberapa petunjuk yang bisa digunakan untuk menyusun kepingan sejarah perahu itu.

  • Perahu baja buatan Amerika

Perahu ini bukan buatan Belanda atau Jepang melainkan Amerika Serikat. Ini ditunjukkan oleh adanya cetakan logo MEB di badan perahu. Arkeolog Wicaksono Dwi Nugroho meyakini, logo MEB ini milik Marine Expeditionary Brigade, satuan marinir Amerika Serikat.

Wicaksono menduga, peristiwa tenggelamnya perahu ini terjadi ketika tentara Sekutu mendarat di Jawa Timur tahun 1945, untuk melucuti tentara Jepang yang kalah perang.

Ini salah satu teori.

LamonganPos punya teori lain (Ampuuun, Pak Wicaksono!) Bisa jadi perahu itu tak ada hubungannya dengan tentara Sekutu, melainkan memang dipakai tentara Belanda.

Sebab selama agresi militer Belanda banyak menggunakan alat tempur buatan Amerika. Bantuan Amerika ini adalah bagian dari paket Marshall Plan yang diberikan kepada negara-negara yang terdampak PD II.

Pertanyaanya, ngapain Belanda di Karanggeneng?

  • Mungkin terkait agresi militer 1948

Sebagai gambaran utuh, mari kita lihat peristiwa agresi militer Belanda tahun 1948. Pada tanggal  18 dan 19 Desember pasukan marinir Belanda mendarat di Glondong, Jenu, Tuban. Mereka memulai operasi militer yang diberi sandi “Burung Camar”.

Foto nomor 1 dan 2 adalah pendaratan marinir Belanda di Jenu dari koleksi Sjilvends.nl/

Dari Jenu, marinir Belanda berpencar. Sebagian ke arah Jawa Tengah, sebagian ke Tuban kota lalu ke Babat lewat Cincim Lawas.

Marinir Belanda di Cincim Lawas, Babat.

Setelah menguasai Babat, mereka tidak langsung menyerang Lamongan lewat Pucuk-Sukodadi, melainkan bergerak ke Ngimbang dan Mantup.

Marinir Belanda di Ngimbang.

Dari Mantup, mereka baru menyerbu Lamongan lewat Tikung. Dari Lamongan, mereka bergerak ke Sukodadi dan Karanggeneng. Rute serangan yang sulit ditebak. Tampaknya untuk mengecoh TNI.

Marinir Belanda di Mantup, menuju ke Lamongan.

Jadi, mungkin perahu baja ini bagian dari pasukan yang dikirim ke Karanggeneng pada Operasi Burung Camar itu.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana perahu itu bisa tenggelam?

  • Mungkin tenggelam akibat baku tembak

Di lokasi penggalian ditemukan juga peluru. Beberapa media melaporkan, salah satu perahu ada bagian yang rusak seperti bekas tembakan. Mungkin saat itu ada baku tembak yang menyebabkan perahu itu tenggelam. Apalagi menurut cerita turun-temurun di kalangan warga setempat, dulu di tempat ini pernah ada baku tembak di zaman Belanda.

Di video amatir di Youtube di bawah, menit 2.05 tampak ada bagian perahu yang bolong bundar simetris. Mungkin bekas ditembus peluru lalu lubangnya melebar karena karat. Tapi ini hanya spekulasi yang sulit dipastikan.

https://www.youtube.com/watch?v=vPBV24pxI_g
  • Perahu multifungsi

Ada tiga buah perahu yang ditemukan di sini. Dua perahu disambung jadi satu di bagian buritan yang memang punya pengait. Dilihat dari bentuknya, perahu ini adalah perahu serbu (assault boat).

Perahu serbu ini multifungsi. Bisa untuk menyeberangkan tentara seperti ilustrasi nomor 4. Ini bukan foto tentara Belanda di Karanggeneng melainkan foto tentara Amerika di Eropa saat PD II melawan Jerman.

Kalau 6 buah perahu dikaitkan satu sama lain, fungsinya seperti rakit yang bisa mengangkut satu buah mobil.

Kalau beberapa puluh perahu dijajar, fungsinya seperti jembatan apung (pontoon bridge) yang bisa dilewati oleh kendaraan perang dalam jumlah banyak seperti ilustrasi nomor 5.

Tapi  tampaknya di Karanggeneng ini armada marinir Belanda tidak begitu banyak karena sebagian besar wilayah Lamongan saat itu praktis sudah mereka kuasai. Mereka ke Karanggeneng hanya untuk berpatroli.

Foto nomor 6 dibuat sebelum tahun 1920. Universitas Leiden memberi keterangan foto ini “Bengawan Solo Karanggeneng Jawa Tengah”. Tapi desa-desa bernama Karanggeneng di Jawa Tengah tidak memiliki jembatan penyeberangan melintasi Bengawan Solo. Jadi kemungkinan ini adalah Karanggeneng Lamongan.

Dari foto ini tampak jelas bahwa “tambangan” Karanggeneng sudah biasa dipakai Belanda untuk menyeberangkan kendaraan.

Jika Anda punya informasi atau analisis lain, silakan sampaikan di kolom komentar atau sampaikan lewat email redaksi@lamonganpos.com

lamonganpos
Author: lamonganpos

Redaksi LamonganPos

Silakan bagikan, klik ikon di bawah

Bagikan pendapat Anda di sini