Polisi Lamongan Spesialis Razia Gelandangan

MEGILAN

Bagi kebanyakan orang, polisi adalah sosok yang sebisa mungkin harus dihindari. Ungkapan “berurusan dengan polisi” selalu bermakna tidak menyenangkan. Mungkin ditilang, didenda, ditangkap, dimasukkan penjara, atau bahkan ditembak.

Tapi polisi Lamongan yang satu ini jauh dari kesan itu. Aipda Purnomo, sehari-hari bertugas di kepolisian sektor Babat, adalah polisi yang langka. Spesialisasinya razia gelandangan. Bukan untuk ditangkap melainkan untuk dirawat dan dikembalikan ke keluarganya.

Banyak di antara gelandangan itu adalah orang-orang yang biasa kita sebut “orang gila”. Tapi Purnomo tak mau menyebut demikian karena sebutan itu tidak berempati. Ia menyebut mereka “orang dengan gangguan jiwa” (ODGJ). Sebutan yang lebih empatik.

Sebagian besar ODGJ ini sebetulnya punya keluarga. Lalu masalah jiwa membuat mereka terpisah dari keluarganya, minggat tanpa tujuan, tidur di terminal, mengais makanan sisa, menggelandang bertahun-tahun.

Suwardi, misalnya, seorang gelandangan di Terminal Ngimbang. Setelah dibujuk oleh Purnomo, diberi makan, diajak ngobrol, dicukur rambutnya, dimandikan, lalu diganti baju baru, ternyata ia masih bisa berkomunikasi dengan baik.

Ia mengaku berasal dari kecamatan Adipala, Cilacap. Lewat Instagram, Purnomo membagikan foto Suwardi lalu dengan cepat bisa menemukan keluarganya, yang kemudian datang menjemputnya ke Lamongan. Dari keluarganya ini, Purnomo tahu Suwardi sudah meninggalkan rumah selama sebelas tahun.

Widuri, ODGJ lain, sehari-hari berkeliaran di sekitar Pasar Babat. Setelah dibujuk, dimandikan, diganti baju baru, dan diajak ngobrol, dia mengaku berasal dari Madiun. Setelah fotonya disebar di medsos, dalam tempo sehari keluarganya langsung menghubungi Purnomo. Dari keluarganya ini, diketahui bahwa Widuri sudah meninggalkan rumah selama sepuluh tahun.

Mujib, ODGJ lain, sehari-hari dikenal sebagai “manusia kain” karena bajunya berupa kain bertumpuk-tumpuk yang compang-camping. Setelah dibujuk, diberi makan, dicukur, dimandikan, diganti baju baru, diajak ngobrol, ia mengaku berasal dari Tarik, Mojokerto. Setelah fotonya diviralkan di medsos, keluarganya di Mojokerto segera mengenalinya.

Mujib, Widuri, dan Suwardi hanya sebagian dari para gelandangan yang dirawat Purnomo di Yayasan Berkas Bersinar Abadi di Desa Nguwok, Modo. Mereka bertiga adalah potret dari ketidaktahuan kita tentang gangguan jiwa.

Lewat aksi razia gelandangan ini, Purnomo seolah sedang menasihati kita semua, yang selama ini tidak memperlakukan ODGJ dengan selayaknya. Selama ini kita menganggap mereka sebagai sampah, orang buangan, manusia afkir.

Lihat saja sebutan-sebutan atas mereka: wong gendeng, ora bek, sarap. Sebutan wong gendeng bahkan sering kita gunakan untuk menakut-nakuti anak kecil. Padahal mereka adalah saudara, paman, bibi, atau tetangga kita, yang harusnya dibantu dengan empati agar bisa menghadapi kesulitan hidupnya.

Suwardi, Widuri, dan Mujib adalah cermin muka kita semua. Kita tidak tahu bagaimana awal mula mereka berkeliaran di jalanan. Yang kita tahu adalah bahwa keluarga merupakan klinik pertama yang harus membantu dan merawat mereka. Bukan psikiater, rumah sakit jiwa, yayasan sosial, apalagi polisi, atau kehidupan jalanan.

Sehari-hari Purnomo super aktif membagikan kegiatan sosialnya ini di Instagram dan Facebook. Bagi sebagian orang, ini mungkin tampak seperti pamer kebaikan. Tapi soal riyak atau tidak, tentu itu urusan Tuhan. Urusan kita adalah bahwa merawat orang-orang telantar merupakan tugas bersama semua orang.

Dan yang pasti, pengikut Purnomo di Instagram yang jumlahnya lebih dari 100 ribu orang itu sangat membantunya memviralkan foto ODGJ sehingga bisa dikenali oleh keluarganya yang berasal dari kabupaten atau bahkan provinsi lain.

Bersama kawan-kawannya sesama pekerja sosial di Yayasan Berkas Bersinar Abadi, Purnomo sebetulnya tidak hanya merawat ODGJ tapi juga menyantuni fakir miskin dengan dana dari para donatur. Namun kegiatan ini mungkin tidak begitu istmewa karena sudah banyak yang melakukannya.

Yang istimewa adalah kepeduliannya terhadap orang-orang yang terabaikan karena masalah gangguan jiwa. Mereka terabaikan karena ketidaktahuan kita tentang ilmu jiwa.

Yayasan Berkas Bersinar AbadiDs. Wates/Jubak, Nguwok, Modo, Lamongan
Google MapsKlik di sini
Websitehttps://berkasbersinar.id/
Instagramhttps://www.instagram.com/poernomo_dtt/
Facebookhttps://web.facebook.com/lilikikawahyunipur
Telp.081333180664
Emaillilikroylmg@gmail.com


lamonganpos
Author: lamonganpos

Silakan bagikan, klik ikon di bawah

Bagikan pendapat Anda di sini