Covid-19 dan Tahi Ayam

OPINI

Dulu di awal-awal pandemi Covid-19, polisi rajin sekali melakukan razia masker. Di Blimbing dan Brondong, sampai malam-malam jam 9 pun polisi masih melakukan razia. 

Gang-gang kampung “dilokdon”. Ditutup portal. Hanya disisakan satu gang buat keluar masuk. Semua orang yang lewat, harus masuk bilik semprot. Mereka disemprot air dan desinfektan sampai basah. Padahal sebetulnya ini tidak berguna sama sekali.

Tapi sekarang? Semua hanya hangat-hangat tahi ayam.

Sekarang kehidupan berjalan biasa.  Seperti tidak ada apa-apa. Apakah karena Covid-19 sudah teratasi? Tentu saja tidak.

Angka nasional saja masih terus menanjak. Di Lamongan, situasinya seperti terkendali. Tapi sebetulnya ini hanya ilusi.

Masalah utamanya adalah kita tak punya data. Di rumah sakit banyak pasien yang meninggal dengan gejala Covid-19 tapi belum sempat diketahui hasi tesnya. Jadi kita tidak pernah tahu seberapa gawat kondisi Covid-19 di Lamongan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Diam di rumah saja memang hampir tidak mungkin. Kalau tidak bekerja, mau makan apa? Ini alasan logis. Karena itu, silakan bekerja, tapi jangan lupa untuk selalu pakai masker.

Banyak orang bilang, “Saya tiap hari ke mana-mana, gak pakai masker juga gak apa-apa, sampai sekarang juga sehat-sehat saja.” Ini sikap egois. Orang yang daya tahan tubuhnya bagus, kalau kena Covid-19 memang tidak menunjukkan gejala apa-apa. Tapi dia bisa menulari orang lain.

Di sinilah masalahnya. Kalau yang ditulari itu adalah orang lansia atau orang yang sudah punya penyakit kronis, maka risikonya bisa fatal, bisa sampai meninggal.

Banyak juga orang yang bilang, “Covid itu gak ada. Rumah sakit saja yang bilang ada Covid supaya dapat uang.”  Ini jenis orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Dokter dan rumah sakit memang dapat untung kalau ada orang sakit. Tapi urusan Covid-19 tidak sesederhana itu.Dokter-dokter itu sebetulnya juga takut tertular. Di seluruh Indonesia sudah ada ratusan dokter dan perawat yang meninggal akibat Covid-19.

Dengan kondisi pemerintah yang sedang bokek, satu-satunya yang bisa kita harapkan adalah program vaksinasi. Yang sudah pasti masih akan lama. Sampai akhir tahun depan pun diperkirakan Covid-19 mungkin masih belum terkendali.

Maka dalam situasi seperti ini, mari kita selamatkan diri dan keluarga masing-masing. Walaupun tahi ayam sudah dingin, jangan lupa selalu pakai masker.

Sebisa mungkin jangan ke rumah sakit, termasuk menjenguk orang sakit. Kalau mau liburan, pilih tempat outdoor saja, hindari tempat tertutup. Pilih tempat yang sepi. Di Lamongan Pantura, misalnya, banyak pantai yang masih sepi, mulai dari Lohgung, Labuhan, Brondong, hingga Kandang Semangkon.

Kalau makan di warung, pilih warung yang terbuka. Hindari makan di dalam warung. Kalau sekolah terpaksa dibuka, kegiatan belajar sebaiknya dilakukan di tempat terbuka.

Intinya, hindari tempat tertutup.

Silakan bagikan, klik ikon di bawah

Bagikan pendapat Anda di sini