Tradisi Perempuan Melamar Laki-laki di Lamongan

MEGILAN

Penulis: Safiroh Isvi Ayu Lestari

Di sebagian besar masyarakat Jawa, tradisi lamaran pada umumnya dilakukan oleh pihak pria kepada pihak wanita. Tapi di sebagian desa di Lamongan, ada tradisi lamaran yang unik. Yang memulai proses lamaran bukan pihak pria melainkan pihak wanita.

Prosesnya tidak jauh berbeda dari lamaran pada umumnya. Keluarga wanita membawa rombongan lengkap dengan segala pernik seserahan (bingkisan) ke rumah keluarga pihak pria. Seserahan ini sesuai dengan tingkat sosial ekonomi keluarga wanita. Biasanya berupa makanan, pakaian, dan benda berharga lain, kadang berupa sepeda motor.

Lalu dalam waktu beberapa minggu kemudian pihak laki-laki wajib membalas lamaran tersebut dengan cara melakukan lamaran balik ke pihak wanita sambil membawa seserahan. Isi seserahan juga tergantung tingkat sosial ekonomi pihak pria. Biasanya berupa makanan, pakaian, dan perhiasan.

Kalau pihak wanita merasa terlalu lama menunggu lamaran balik, mereka biasanya akan mengutus wakil dari keluarga untuk mengingatkan pihak pria mengenai lamaran balik. Di acara lamaran balik inilah biasanya disepakati tanggal pernikahan.

Kebiasaan wanita melamar ini dilakukan turun-temurun, bahkan konon sudah menjadi tradisi sejak zaman kerajaan dulu. Pada masa itu awalnya proses lamaran dilakukan oleh pihak pria kepada pihak wanita. Tapi kebiasaan ini berubah setelah ada sebuah peristiwa yang terkenal.

Konon pada masa itu ada seorang ningrat yang memiliki dua putra yang tampan rupawan. Ketampanan dua pemuda itu sangat terkenal dan akhirnya membuat pasangan putri kembar dari seorang tokoh ningrat lainnya terpikat. Singkat cerita, ayah dari wanita kembar itu mendahului melamar pihak laki-laki agar mau menikah dengan anaknya. Ia melawan tradisi karena sangat khawatir pemuda tampan itu memilih wanita lain.

Sejak saat itulah tradisi perempuan melamar laki-laki bukan hal yang tabu. Meskipun begitu tidak semua daerah di Lamongan menjalankan tradisi unik ini. Hanya beberapa daerah yang masih tetap mempertahankan tradisi ini sampai sekarang.

Kisah mengenai pemuda tampan dan perempuan kembar itu diduga masih berkaitan dengan legenda Ande-Ande Lumut. Cerita rakyat ini berlatar kisah yang terjadi di wilayah kerjaaan-kerajaan yang sekarang masuk ke dalam wilayah Jawa Timur, yaitu Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala, yang meliputi wilayah Sidoarjo sekarang.

Dalam legenda itu, pihak perempun yakni Kleting Kuning dan saudara-saudaranya, datang melamar pihak pria, yakni Ande-Ande Lumut. Dalam legenda ini, Ande-Ande Lumut berada dalam posisi memilih salah satu dari Kleting bersaudara. Kisah inilah yang tampaknya menjadi dasar tradisi unik di Lamongan yang masih bertahan hingga sekarang.

—- Informasi ini dipersembahkan oleh by.U, kartu internet cepat & murah—-

lamonganpos
Author: lamonganpos

Redaksi LamonganPos

Silakan bagikan, klik ikon di bawah

Bagikan pendapat Anda di sini